Dua Teori Pemicu Ledakan Pager Hizbullah
Jakarta – Sembilan orang, di antaranya dua gadis muda, tewas serta 2.800 pemukim lainnya cacat pada Lebanon, Selasa, 17 September 2024, pasca banyak pager yang dimaksud digunakan oleh pejuang Hizbullah meledak secara bersamaan ke seluruh negeri, sebagaimana dilaporkan Daily Mail.
Gelombang ledakan tanpa peringatan kemudian tak terduga, yang mana dimulai sekitar pukul 3.45 sore waktu setempat dan juga berlangsung sekitar satu jam, mengakibatkan kepanikan serta kekacauan yang digunakan meluas ke seluruh pinggiran selatan Beirut, Lembah Bekaa, dan juga Lebanon selatan.
Hizbullah yang digunakan didukung Iran sudah menggunakan pager, alih-alih ponsel, akibat ponsel dapat dilacak kemudian digunakan untuk menentukan serangan rudal mematikan terhadap komandannya.
David Kennedy, mantan analis intelijen Badan Ketenteraman Nasional AS, mengemukakan terhadap CNN: “Kemungkinan besar tanah Israel mempunyai operator manusia ke Hizbullah. Pager itu ditanamkan dengan material peledak serta kemungkinan hanya sekali akan meledak di mana instruksi tertentu diterima.”
“Kompleksitas yang dibutuhkan untuk melakukan ini luar biasa. Diperlukan berbagai komponen intelijen lalu eksekusi yang dimaksud berbeda. Kecerdasan manusia (HUMINT) akan berubah jadi metode utama yang digunakan digunakan untuk melakukan ini, sama-sama dengan mencegat rantai pasokan untuk melakukan perubahan pada pager,” tambahnya.
Belum ada yang mengaku bertanggung jawab melawan insiden massal tersebut, meskipun Hizbullah serta pemerintah Lebanon telah terjadi menuding Israel, yang dimaksud belum berkomentar.
Saat ini ada dua teori utama tentang bagaimana ledakan itu terjadi. Satu teori menyatakan bahwa pager yang dimaksud diisi dengan unsur peledak dan juga diledakkan melalui akses jarak jauh, sementara teori lainnya menyebutkan peretasan keamanan siber yang dimaksud menyebabkan akumulator ion litium pager berubah jadi terlalu panas juga meledak.
Seorang sumber yang dimaksud dekat dengan Hizbullah mengklaim bahwa insiden itu berjalan sebagai akibat segera dari ‘peretasan Israel’ terhadap komunikasinya, meskipun hal ini belum dikonfirmasi. Seorang pejabat lain mengutarakan bahwa penyebab ledakan kemungkinan adalah penyimpan daya litium yang digunakan memberi daya pada pager.
Meskipun penyimpan daya litium-ion umumnya digunakan di elektronik konsumen, elemen penyimpan daya yang dimaksud dapat berubah jadi terlalu panas dan juga terbakar – bahkan meledak hebat pada beberapa kasus. Hal ini disebabkan oleh fenomena yang mana disebut thermal runaway, reaksi berantai kimia yang mana berlangsung pada waktu elemen penyimpan daya mengalami inovasi suhu yang cepat, yang mana dipicu ketika elemen penyimpan daya terlalu panas, bocor, atau terisi daya berlebihan.
Saat reaksi kimia ini berlangsung, hal itu dapat menyebabkan pelepasan energi secara mendadak yang tersebut dapat menyebabkan perangkat meledak dengan kekuatan juga panas yang dimaksud hebat.
Sumber militer Lebanon telah terjadi menyatakan bahwa perangkat yang dimaksud diledakkan sebagai bagian dari serangan Israel. Ada kemungkinan pasukan negeri Israel atau aktor lain dapat meretas perangkat ini juga mengisi daya penyimpan daya secara berlebihan dari jarak jauh, yang tersebut menyebabkan thermal runaway.
Pager rutin kali menggunakan saluran komunikasi yang tidak ada terenkripsi dan juga perangkat lunak yang telah ketinggalan zaman, sehingga menjadikannya target yang tersebut sangat sederhana untuk diserang.
Pager satu arah adalah penerima pasif kemudian karenanya bukan dapat dilacak, tetapi pada waktu instruksi dikirim, ia mengaktifkan setiap pemancar pager pada area tersebut. Dengan membajak sinyal siaran, musuh dapat semata menginfeksi setiap pager di jaringan secara bersamaan. Virus kemungkinan besar sudah ditanamkan ke di jaringan pager Hezbollah lalu dibiarkan tiada berpartisipasi di dalam perangkat yang disebutkan hingga menyebar luas.
Malware ini kemungkinan besar telah terjadi dipicu atau diaktifkan dari jarak berjauhan pada pengatur waktu yang dimaksud telah terjadi diprogram sebelumnya. Sebuah video menunjukkan bahwa perangkat yang disebutkan tampaknya menerima instruksi beberapa ketika sebelum perangkat yang dimaksud meledak.
Sinyal ini mungkin saja menjadi pemicu ledakan atau mungkin saja sudah digunakan untuk memverifikasi bahwa para pejuang memegang perangkat yang dimaksud ketika meledak. Jika ledakan ini merupakan hasil dari serangan siber, maka ini adalah tindakan hukum pertempuran siber yang sangat jarang berjalan yang tersebut menyebabkan gangguan jiwa pada infrastruktur fisik.
Awal tahun ini, pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah mendesak anggota organisasinya untuk kembali menggunakan pager untuk komunikasi penting, dengan alasan bahwa telepon pintar modern akan lebih lanjut rentan terhadap serangan siber oleh pasukan Israel.
Namun, seperti halnya ponsel lalu sejumlah barang elektronik konsumen lainnya, pager juga mengandalkan penyimpan daya litium yang dapat diisi ulang agar dapat berfungsi. Baterai dapat terbakar hingga 590 derajat Celsius (1.100 F) ketika dinyalakan.
Israel sudah pernah menggunakan metode ini di dalam masa lalu, khususnya untuk membunuh kepala pembuat bom Hamas, Yahya Ayyash, pada tahun 1996. Shin Bet, badan intelijen yang tersebut misterius, memasukkan 15 gram material peledak RDX ke pada ponsel Ayyash, ketika ia menelepon ayahnya.
Meskipun negeri Israel memiliki kebijakan lama untuk tak pernah mengonfirmasi atau menyangkal pembunuhan yang tersebut diduga dilakukannya, mantan Shin Bet Carmi Gillon mengonfirmasi cerita yang disebutkan pada tahun 2012.
Artikel ini disadur dari Dua Teori Pemicu Ledakan Pager Hizbullah


