Budayawan Betawi Skor Cara Pendekatan Paslon di Pemilihan Kepala Daerah Ibukota Hanya Gimik
TEMPO.CO, Jakarta – Budayawan sekaligus sastrawan Betawi Yahya Andi Saputra menilai, cara pendekatan akan datang pasangan calon (paslon) gubernur kemudian duta gubernur ke pemilihan kepala tempat atau Pemilihan Kepala Daerah Ibukota terhadap para calon pemilih hanya gimik.
Hal ini, katanya, dilihat dari cara mendekatkan pemilihnya dengan budaya Betawi menggunakan busana hingga adu pantun.
“Tapi, yang terlihat oleh kebanyakan pendatang Betawi cuma gimik,” kata Yahya, Senin, 9 September 2024, seperti dikutipkan dari Tempo.
Yahya menyampaikan segala upaya itu hanyalah untuk mengerek elektabilitas paslon. Dia juga mengoreksi tentang penyelenggaraan kesenian Betawi yang tersebut tak sesuai standar.
“Kadang nyakitin kalau enggak sesuai aturan atau pakem,” kata beliau tanpa merinci lebih besar jauh.
Lebih lanjut, peneliti ke Lembaga Kebudayaan Betawi itu turut mengingatkan agar komunitas Betawi tidaklah menghadapi kesulitan pada penokohan tertentu yang tersebut dibangun setiap akan datang paslon.
Selain itu, beliau menilai, para paslon yang dimaksud maju juga merupakan figur-figur lama yang digunakan tak banyak menghadirkan gagasan baru untuk warga Betawi.
“Tokoh-tokoh yang mana mendekat terhadap dia adalah tokoh yang digunakan enggak punya idealisme kebetawian yang mana benar. Mereka berjualan Betawi untuk tujuannya. Mereka pemain sesaat kemudian oportunis,” tuturnya.
Harapkan pengganti Anies punya visi-misi yang dimaksud jelas
Sementara itu, musisi Betawi kontemporer yang tersebut dikenal sebagai Kojek Betawi, Muhammad Amrullah, berharap agar gubernur Ibukota terpilih nantinya dapat memberikan sumbangan yang mana besar bagi komunitas Betawi, termasuk di bidang kesenian dan juga kebudayaan.
Amrullah mengajukan permohonan para akan datang paslon untuk memberikan inisiatif konkret untuk memajukan masyarakat Betawi.
“Saya menantang ketiga paslon ini untuk bertemu serta menjelaskan visi misi mereka lalu komintmennya tentang Betawi,” kata beliau yang tersebut mengaku pendukung Anies Baswedan, seperti dikutipkan Tempo, Selasa, 10 September 2024.
Dia juga berharap ganti Anies mempunyai visi juga misi yang dimaksud jelas pada memajukan Jakarta.
“Angan dan juga impian harus lebih besar besar dari manusia Anies Baswedan. Dan, (program) bisa jadi diimplementasikan agar warga juga dapat menilai. Yang cuma omon-omon doang mah sorry ye,” ucapnya.
Terkait penolakan beberapa warga Ibukota Indonesia terhadap Ridwan Kamil (RK), kata Amrullah, terbentuk lantaran banyak hal. Misalnya, kata dia, RK pernah dianggap pernah menyindir Ibukota hingga menghina Persatuan Sepak Bola Nusantara Ibukota Indonesia atau Persija.
Penolakan terhadap RK, kata Amrullah, juga terkait kegiatan yang tersebut ia bawa seperti akan membantu rencana reklamasi yang berpihak pada kepentingan penggede.
“Kalau gue secara pribadi sebagai warga Betawi atau Ibukota lalu juga suporter Persija menolak keras RK jadi gubernur Jakarta. Tidak ada RK untuk Jakarta. Dulu menghina, sekarang ngemis suara. Sorry ye,” ujarnya.
Diketahui, Ridwan Kamil-Suswono, Pramono Anung-Rano Karno, juga Dharma Pongrekun-Kun Wardana sudah pernah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Ibukota untuk mengikuti pemilihan kepala daerah Ibukota 2024.
Artikel ini disadur dari Budayawan Betawi Nilai Cara Pendekatan Paslon di Pilkada Jakarta Hanya Gimik
