Bisnis

Sosok Riduan, delegasi direktur utama baru Bank Mandiri

Ibukota Indonesia – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI di Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menetapkan Riduan sebagai duta direktur utama baru untuk menggantikan duta direktur utama sebelumnya yang tersebut diberhentikan dengan hormat yaitu Alexandra Askandar.

Riduan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Corporate Banking Bank Mandiri sejak langkah RUPST tahun lalu.

Riduan lahir di dalam Palembang pada 5 November 1970. Semasa mudanya, ia menempuh sekolah lalu berhasil lulus sekolah sarjana di dalam Jurusan Kondisi Keuangan Akuntansi, Universitas Sriwijaya, Palembang.

Kemudian, ia melanjutkan institusi belajar lalu lulus acara Magister (S2) pada kampus yang mirip dengan mengambil jurusan Magister Manajemen.

Sementara itu, karirnya di bumi kerja, pada tahun 2013 sampai 2016, Riduan menjabat sebagai Direktur Keuangan dan juga Pengembangan Usaha PT Askes (Persero) kemudian BPJS Kesehatan.

Kemudian, pada tahun 2016 sampai 2017, ia diberikan amanah untuk menjabat sebagai Lokal pimpinan II/ Sumatera 2 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Baru tahunan menjabat, Riduan diberikan kepercayaan untuk mengemban jabatan sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Middle Corporate PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Berkat sepak terjangnya yang mana bagus yang dimaksud berdampak terhadap kinerja Bank Mandiri sebagai Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), ia kemudian diberikan amanah mengisi tempat direksi tepatnya Direktur Commercial Banking.

Dalam RUPST pada 7 Maret 2024, ia diberikan amanah serta digeser ke sikap sebagai Direktur Corporate Banking Bank Mandiri.

Melalui RUPST hari ini, Selasa (25/3), Riduan diberikan amanah untuk menjabat sebagai Wakil Direktur Bank Mandiri.

Perjalanan Riduan dalam Bank Mandiri sudah pernah menyeberangi beragam tantangan seiring adanya dinamika perekonomian pada tingkat domestik maupun global, salah satunya ketika terjadinya pandemi Virus Corona pada 2020.

Pada 2020, laba bersih Bank Mandiri anjlok 37,7 persen year on year (yoy) bermetamorfosis menjadi Rp17,1 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp27,4 triliun pada 2019.

Namun demikian, ke sedang menurunnya laba bersih, Bank Mandiri terus optimistis mampu rebound melalui fokus serta menekankan kualitas kredit dengan mempertimbangkan sektor potensial, dan juga menerapkan kehati-hatian juga target menekan rasio NPL kisaran 3-3,5 persen.

Hingga akhirnya, sepanjang 2021, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih senilai Rp28,03 triliun atau meningkat 66,8 persen (yoy) dibandingkan laba tahun sebelumnya yang dimaksud mencapai Rp17,11 triliun.

Kemudian, pada 2022, perseroan membukukan laba bersih Rp41,2 triliun atau bertambah 46,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang tersebut menguatkan permodalan bank untuk melakukan ekspansi bisnis, teristimewa memperkuat fungsi intermediasi di menyalurkan kredit.

Pertumbuhan kinerja yang solid pada 2022 juga ditunjang strategi kegiatan bisnis yang dimaksud konsentris untuk segmen potensial juga langkah-langkah optimalisasi digital, sehingga tingkat efisiensi perseroan meningkat lalu memacu perkembangan ukuran industri pada semua segmen juga rasio dana tidak mahal atau current account and saving account (CASA) Bank Mandiri tahun 2022.

Pada tahun itu, capaian Bank Mandiri menuai apresiasi dari Joko Widodo (Jokowi) yang dimaksud pada waktu itu merupakan Presiden Republik Indonesia. "Harus kita apresiasi Bank Mandiri yang tersebut mampu menyalurkan kredit meningkat sebesar 14,9 (persen) lalu keuntungan perusahaan di bilangan bulat Rp41 triliun," kata Jokowi.

Pada 2023, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp55,1 triliun atau berkembang 33,7 persen (yoy), lalu berikutnya tahun 2024 perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp55,8 triliun atau naik 1,31 persen (yoy).

Artikel ini disadur dari Sosok Riduan, wakil direktur utama baru Bank Mandiri

Related Articles

Back to top button