Ekonom sebut lonjakan rasio dividen cara Bank Mandiri tarik pemodal

Ibukota – Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengutarakan lonjakan rasio pembagian dividen Bank Mandiri berubah menjadi 78 persen merupakan strategi untuk menawan minat investor.
Rasio pembagian dividen (dividend pay out ratio) Bank Mandiri tahun buku 2024 naik signifikan berubah menjadi 78 persen, sementara selama tahun buku 2019-2023, rasio pembagian dividen perseroan tercatat semata-mata 60 persen.
"Kenaikan ini tampaknya tambahan mencerminkan strategi jangka pendek untuk meningkatkan daya tarik saham pada mata investor," ujar Rizal ketika dihubungi ANTARA di dalam Jakarta, Rabu.
Selain itu, ia menuturkan upaya yang disebutkan juga dapat menambah kepercayaan para pelaku pangsa terhadap prospek kinerja perseroan.
Meskipun begitu, ia menyampaikan peningkatan dividend pay out ratio yang disebutkan harus disikapi dengan hati-hati, teristimewa terkait ruang fiskal perseroan.
"Langkah ini menyisakan pertanyaan mengenai ruang fiskal Bank Mandiri untuk ekspansi organik, metamorfosis digital, kemudian mitigasi risiko ke depan, khususnya di konteks ketidakpastian global kemudian domestik," kata Rizal.
Selain peningkatan rasio dividen, ia menuturkan rencana buyback saham senilai Rp1,17 triliun juga dapat menguatkan persepsi para pelaku pangsa terhadap fundamental perseroan.
Namun, ia menyatakan langkah buyback tersebut juga dapat menciptakan distorsi biaya saham yang digunakan bersifat sementara, lalu bukanlah cerminan nilai intrinsik yang tersebut sesungguhnya.
Rizal juga menyampaikan kendati buyback dapat memperbaiki rasio keuangan terkait earnings per share (EPS) serta return on equity (ROE), tapi secara substansi langkah yang disebutkan bukan menciptakan nilai tambah baru bagi produktivitas maupun peningkatan aset perusahaan.
"Jika dana yang mana digunakan adalah dana internal yang digunakan seharusnya bisa jadi dialokasikan untuk peningkatan kredit UMKM, ekspansi sektor strategis, atau digitalisasi sistem perbankan, maka strategi ini patut dikritisi lantaran memiliki kemungkinan mengorbankan misi intermediasi jangka panjang," ucapnya.
Rizal pun berharap pembaharuan jajaran komisaris dan juga direksi Bank Mandiri melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 25 Maret 2025, yang mana salah satunya kedudukan duta direktur utama yang pada saat ini dipegang oleh Riduan, dapat menyebabkan transformasi kebijakan strategis lalu penataan ulang arah manajerial.
Sementara, penunjukan kembali Darmawan Junaidi sebagai direktur utama bisa saja diartikan sebagai sinyal kontinuitas kinerja perseroan.
"Pasar akan membaca inovasi ini melalui aksi nyata pada strategi ekspansi, efisiensi operasional, dan juga peran Bank Mandiri pada menyokong program metamorfosis ekonomi nasional. Jika tidaklah diiringi dengan perbaikan tata kelola dan juga inovasi, maka pembaharuan pengurus sanggup sekadar dinilai sekadar rotasi kelembagaan," imbuhnya.
Artikel ini disadur dari Ekonom sebut lonjakan rasio dividen cara Bank Mandiri tarik investor



